This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 28 Agustus 2017

KUMUDA MARTYA MARWA (MEMAYU BUYUT)

Secara singkat sejarah Bale Panjang adalah tempat pasujudan (Masjid) hal ini dapat di ketahui dari sebuah seloka yang bertuliskan Huruf Rikasara yang berbunyi:
Ing Mangsa Tumurun Seh Asupi Sirulloh, Katah Badal Manggoneng Tlatah Sarah Bahu, Ginahu Sarahing Ngurip, Pasujudan Tan Tepung Hing ShopeSumurup Sengengeng, Ngasup Ngewodho Balepanjang, Mrih Pangriyome Waringin, Giri Panilas, Jembar Kalangane Sirbudhirahsa

"Pada masa padukuan dipimpin Syekh Asufi Sirulloh, Banyak Utusan yang bermukim di Pesantren Duku Maja, Menuntut ilmu kehidupan (Agama Islam), Hingga Masjid Sirbudhirahsa tidak muat menampung jamaah, Saat petang Syekh Asup membawah (dibahu) Balepanjang, ditarau di bawah pohon beringin, Bukit Panilas, Masjid Sirbudhirahsa diperluas hingga kepelatarannya"

Kumuda memayu buyut adalah prosesi Pemugaran Atap Bale Panjang yang merupakan sebuah symbol dari masa lalu akan keberadaan Tlatah Sarah Bahu Gamel. Bale panjang tidak lain adalah sebuah pituah dari sesepuh Gamel (Syaikh Sulaiman Bagdadi/Syaikh Semuningaran) untuk anak cucu dalam bentuk “Bandhasan” (Nasihat yang dibentuk dalam bangunan atau benda). Bale Panjang secara sederhana berarti Tempat Bersandar Hidup Mati manusia, Bale symbol tempat kematian (tidur) sedang Panjang (Piring) symbol tempat kehidupan (Makan). Sedang bentuk bangunan Bale panjang sendiri memiliki makna sebagai berikut:
a.      Kaki Bale Panjang (Saqodam) berjumlah 6 (Enam) yang menyimbolkan akan hidup harus berlandaskan keimanan.
b.      Tihang Bale Panjang (Kumasama’) berjumlah 5 (Lima) yang menyimbolkan akan hisup harus dibangun dan berdiri pada Rukun Islam. Salah satu tihang merupakan Saka Dempet yang merupakan symbol berdirinya hidupharus mengikat erat dua kalimat syahadat.
c.       Papan Bale Panjang (Kehidamajlis) berjumlah 17 (Tujuh Belas) yang menyimbolkan hidup harus beralaskan/bersandar setiap waktu pada Shalat 5 Waktu.
d.      Blandar Bale Panjang berjumlah 4 (Empat) yang merupakan symbol penguat hidup adalah 4 Mas-hab maupun 4 Unsur Hidup (Hablu Minalloh, Hablu Minnas, Hablu Minassiri, Hablu Minal Ardhi).
Bale Panjang berada di bawah pohon Asem dan Pohon Beringin yang merupakan symbol Al Quran ( Beringin = Waringin, Wari = Air Jerni mengartikan Ilmu/Petunjuk, Ngin = Nafas/Keinginan/Hidup. Waringin = Petunjuk Hidup = Quran Hadis). Pohon Asem symbol Kekafahan (Totalitas) dalam menjalankan makna yang terkandung oleh Bale Panjang dalam kehidupan sehari-hari khususnya masyarakat Tlatah Sarah Bahu Gamel.
Memayu Bale Panjang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka menyambut datangnya musim penghujan. Prosesi Memayu dilaksanakan setiap hari Sabtu yang tahun ini jatuh pada 30 Oktober 2017, adapun rangkaian kegiatannya sebagai berikut:
a.      Pementasan Tabu Renteng
Tabu Renteng merupakan kesenian khas Tlatah Sarah Bahu yang memiliki sejarah panjang dan sebuah saksi sejarah akan hubungan Tlatah Sarah Bahu Gamel dengan Kesulthanan Mataram Islam. Tabu Renteng dilaksankan mulai ba’da isya hingga tengah malam pada hari Kamis malam Jumat.

b.      Kumuda Martya Marwa
Kumuda Martya Marwa adalah prosesi pokok memayu bale panjang yang memiliki beberapa kegiatan inti seperti:
1.      Gosaton (Sanggo Sanur Kedaton) merupakan kegiatan pemberian penghargaan terhadap putra-putri Tlatah Sarah Bahu Gamel berusia ≤ 10 Tahun yang dalam satu tahun telah mengatamkan Al Quran. Kegiatan ini diawali setelah Shalat Ashar Gosaton berkumpul di Masjid Kuno Gamel Sirbudhirahsa memakai pakaian Islami. Setelah seremonial di Masjid, Gosotan diarak menuju Bale Panjang dengan iringan tabu Brai. Sesampainya Bale Panjang Gosaton duduk dipanku orang tuanya di atas balepanjang, lalu dihidangkan “Saweran Bubur Abang Putih” (Pemberian Hadiah). Untuk para hadirin duduk menghadap Bale Panjang berlaskan tikar serta Sidqo Kemliketan (Dibagiku Nasi Ketan) kepada seluruh yang hadir. Dibacakan kidung Matranan oleh sesepuh (Ulamah) Tlatah yang berisi nasihat dan amanah agar terus mengaji (Membaca dan memahami isi) Al Quran.
2.      Tabu Brai pementasan pada Jumat Malam Sabtu selepas Magrib hingga Tengah malam
3.    Kupatan, pada pagi sekitar pukul 05.30 Masyarakat bersedekah Kupat dan sejenisnya ke setiap Padukon Kebuyutan (Duku Maja, Waringin, Kudupati, Kebon Branti, dan Ketipes)
4.      Matrat/Madepis Matran, pada pukul 06.00 seluruh lelaki balig/dewasa berkumpul untuk ikut membantu memayu, setelah sesaji dating maka salah satu Tetuah Telatah membacakan “Madepis Matran” (penjelasan tentang balepanjang).
5.      Memayu Bale Panjang dan pementasan Wayang Purwa sehari semalam suntuk.

c.       Mlaku Bareng (Tarkib Marwa) adalah arak-arakan mengelilingi desa.

d.      Pengajian Umum




Sabtu, 22 April 2017

KIRAB AGUNG NILAS BEDHAYA SIRBUDHIRAHSA TLATAH SARAH BAHU


NILAS BEDHAYA SIRBUDHIRAHSA merupakan tradisi masyarakat Desa Gamel dan Sarabau atau masyarakat Tlatah Sarah Bahu dalam mengingat dua peristiwa besar yang berkaitan dengan Masjid Kuno Gamel.

  1. Pendirian Masjid, peristiwa ini tercatat dalam Sloka Duku Maja yang bertuliskan dengan huruf Pagon dan Rikasara (Aksara Tlatah Sarah Bahu), yang menceritakan pendirian Masjid Sirbudhirahsa oleh Syaikh Sulaiman Bagdadi/Syaikh Semuningaran yang dikenal dengan sebutan Sanghyang Semar, yang diperkirakan pada Tahun 510 H atau menurut kepercayaan masyarakat dibangun pada tahun 1111 Masehi. 
    Rikasara
  2. Pembuatan Atap, pembuatan atap masjid merupakan hadiah dari Sulthan Cirebon menurut tutur orang tua adalah sulthan kanoman pertama. Peristiwa ini terdapat dalam prasasti Saka Blandar Masjid Kuno Gamel, yaitu: (Blandar Selatan) "MAR HADI NGAWAS, ANGMUNG NGEWALEN, 5261"  & "DINA HAHAD JUMADIL KAKIR, TAHUD JIM HAHIR, 82" (Secara langsung Sulthan Mengawasi, Hanya Membuat Atap, 1625) dan (Hari Minggu bulan Jumadil Akhir Tahun Jim Akhir tanggal 28).  (Saka Blandar Utara) "BENGIYE MADEPIS HADI NATA WALAN, RUGABA BAHANA SINAGASA KUWASAN HULIHI" (Pada Malam Harinya Berkumpul menjelaskan secara rinci oleh Sulthan bagaimana cara membuat atap, Sebagai Ucapan terima kasih yang tulus karena rasa bahagia atas segala sumbangsi Buyut Gamel yang telah mengembalikan Singgasana dan Kekuasaannya).
Bengiye Madepis Hadi Nata Walan
Rugaba Bahana Sinagasa Kuwasan Hulihi

Mar Hadi Nyawas
Angmung Ngewalen
5261

Dina Ahad Jumadil Akir
Tahud Jam Hakir, 82

Dari dua peristiwa diatas tersebut maka masyarakat Tlatah Sarah Bahu setiap tahun mengadakan acara Sebah Sinariyan yaitu acara penyambutan kedatangan sulthan kanoman berkunjung ke tlatah Sarah Bahu yaitu pada malam 28 Jumadilakir. Kigiatan Sebah Sinariyan menurut catatan Sloka Klaras Sengkle dilaksanakan sampai tahun 1807, setelah tahun tersebut karena kondisi kesulthanan yang sangat terbelengguh oleh penjajah tidak dilaksanakan kembali. Dan pada Tahun 2016 diprakarsahi oleh keturunan ke 19 dari Buyut Gamel yaitu Pangeran Anom tradisi Sebah Sinariyan dihidupkan kemabali dengan nama KIRAB AGUNG NILAS BEDHAYA SIRBUDHIRAHSA. 

Dalam Kirab Agung Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa yang dilaksanakan selama 8 hari berturut turut ini (malam 21 - malam 28 Jumadilakir) terdapat kegiatan sebagai berikut:




PRA NILAS BEDHAYA
  1. Pangrehyang Purwa: Yaitu kegiatan urun rembug para sesepuh dan toko masyarakat Desa Gamel & Desa Sarabau menentukan waktu dan bentuk kegiatan serta Panitia Nilas. Kegiatan ini dilaksanakan 4 atau 3 bulan sebelum dilaksanakan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa.
  2. Pangrehyong Bawan: yaitu kegiatan urun rembug membicarakan tentang pelaksanaan dipimpin oleh panitia inti kegiatan, memberikan gambaran kegiatan yang akan dilaksanakan, biaya yang diperlukan, serta pemberian mandat kepada orang orang yang menjadi penanggung jawab merekrut serta menyelenggarakan salah satu kegiatan dalam Nilas yang disebut "Pamangkuh", contoh Pamangkuh Banyu Tirta adalah orang yang bertanggung jawab mencari para pemuda untuk dalam kegiatan Pinadosan Banyu dan Kawin Banyu Tirta Wening Parapara, dsb.
  3. Pangrehyang Sapanumpengan: yaitu urun rembug mematangkan kegiatan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa serta memberikan amanah untuk ziarah kebeberapa makom buyut seprti; Buyut Dukumaja, Buyut Asup, Buyut Nyimas Ja-Gung, Buyut Nawa Renteng (Kebon Branti), Damar Wulan, Raden Sayid Iman (Pengaringan), Buyut Kibekel Wasih. Dan persiapan malam Pangrehyang Manimpunan yaitu mengamanatkan setiap RT menyediakan tumpeng dan bekakak. Kegiatan ini dilaksanakan 2 atau 1 minggu sebelum pelaksanaan Pangrehyang Manimpunan.
  4. Pangrehyang Rehyong Manimpunan: yaitu menandakan kegiatan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa akan dilaksanakan pada 3 atau 1 hari lagi. Kegiatan ini berisi pembacaan Tahlil Ratib Agung Panuratrahsa dan dilanjutkan Makan Bersama yang beralaskan daun pisang memanjang. Dan pemberian jubah kepada Jubah kepada Ketua DKM sebagai simbol siap melaksanakan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa.


KIRAB AGUNG NILAS BEDHAYA SIRBUDHIRAHSA

  1. Panadosan Banyu Tirtawening Parapara: yaitu kegiatan pengambilan Air dari 5 mata air yang berada di tapal batas Desa (Duku Majo, Kegipes, Kebon Branti, Margi Waringin, Damar Wulan) oleh 11 orang setiap Sumur. Kegiatan ini dilaksanakan selepas ashar.
  2. Kawin Banyu Tirtawening Parapara: yaitu kegiatan pengambilan air dari 2 Mata air oleh Pamangkuh Panatagari (Kepala Desa). Sumur Balai Desa Gamel dan Sumur Buyut Asup. Kegiatan ini dilaksanakan sehabis Isya'. 
  3. Payung Kencana Agung: yaitu kegiatan mengaji oleh 21 Santri asli putra Gamel Sarabau, setiap santri mengkhotmilkan surat Al Baqoroh satu malam selama 7 malam berturut-turut yang dilakukan selepas Isya' di dalam Masjid Kuno Sirbudhirahsa Gamel. Hal ini berdasarkan cerita jika Syekh Sulaiman Bagdadi akan membuka lahan untuk membuat masjid dengan membaca Surat Albaqoroh 21x/malam selama 41 hari.
  4. Luwesaron: yaitu pageran tabuh renteng/Brai yang merupakan seni asli tlatah Sarah Bahu, sejak malam ke 3 hingga pelal.
  5. Ngaras Kilasara: Urun rembug panitia menentukan sesepuh siapa saja yang diundang untuk acara Kilasara Laras. Kegiatan ini di lakukan pada malam ke 4.
  6. Kilasara Laras: yaitu kegiatan urun rembug para pinisepuh untuk menyamakan persepsi sejarah yang akan dibacakan di malam pelal "Madepis Hadi Nata". Kegiatan ini dilaksanakn pada malam ke 6.

    https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=oKCxYXd7-wM
      
  7. Nyawat Parapara: yaitu kegiatan kepemudaan yang berbentuk atraksi yang dilakukan oleh para pemuda dalam mengisi malam Nilas Bedhaya. Kegiatan ini dilakukan dari malam ke 5 - 7.
  8. Sepetakiran: yaitu kegiatan pengambilan sumbangsi masyarakat oleh paniti/pemuda yang berbentuk Takir berisi Beras, Petek, Telor Mentah dan Matan (Uang) yang ditarau di depan Pintu. Panitia hanya mengambil pada rumah yang di depan pintunya ada takir, tanpa mengetuk pintu dan meminta. Setelah dikumpulkan maka diserahkan ke RT/RW blok masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan selepas Ashar pada hari ke 6.
  9. Sebah Sinariyan: yaitu kegiatan menyerahkan hasil Sepetakiran oleh RW beserta Seluruh RT juga masyarakat sehingga berjumlah minimal 11 orang ke panitia di Masjid Kuno Gamel. Kegiatan ini dilaksanakn pada malam ke 7.
  10. Mamayuh Talatah: Memasang dan menghias sepanjang jalan dengan umbul umbul dan sebagainya. Kegiatan ini dilakukan pada pagi hari ke 7.
  11. Kirab Komala Agung: yaitu kegiatan menjemputan dan mengarak Sulthan dari Waru Agung ke Telatah Sarah Bahu. Kegiatan ini dilakakukan selepas Ashar pada hari ke 7.



  12. Tarkib Ngeran: yaitu penjemputan sulthan dari Rumah Singgah (Makom Pangkrasag) ke Masjid untuk sholat Isya' berjamaah. Setelah solat dilanjut pembacaan Tahlil Ratib Agung Panuratrahsa.

  13. Madhepis Hadi Nata: yaitu sambutan dari Sulthan dan membacaan sejarah Talatah Sarah Bahu.

  14. Tumpangsari Godong Jati: Makan bersama baik muspika, Sulthan, Pilih Sepuh dan masyarakat umum dengan menu Nasi Putih, Sambal, Petek, Dadar yang dibungkus Daun Jati.
    Sulthan & Rakyat makan dengan lauk yang sama: Petek Dadar Rumba dan Sambal, Nasi Putih

Batik Motif Bale Panjang

BATIK TULIS MOTIF BALE PANJANG dari DESA GAMEL CIREBON
Batik Bale Panjang dalam Penyambutan Pangeran Raja M Qodiran (Patih Kanoman)


Motif Bale Panjang merupakan Motif Batik Tulis Cirebon yang berasal dari Desa Gamel yang memiliki sejarah panjang. Motif Bale Panjang memiliki filosi yang sangat dalam baik dari susunan gambar maupun penggunaan warnanya. Namun Motif ini telah menghilang sejak tahun 1880an bertepatnya terjadi pergolakan politik pada masa itu.
Motif Bale Panjang yang dihadiahkan untuk Sulthan Kanoman: Leman Petak

Dalam salah satu catatan dalam Kitab Hong Dji yang ditulis pada tahun 1645an (terdapat gambar batik yang sangat sederhana) Motif Bale Panjang dikenal juga dengan Motif Kubet. Kubet sendiri merupakan pusaka tlatah Sarah Bahu yang berbentuk Keris Berdapur Lurus (Mirip Betok) yang memiliki lengkungan/cabang seperti Kujang dan terbuat dari Emas murni, sayangnya pada tahun 1970an pusaka ini hilang dari patilasan Syekh Asyufi Sirnurulloh. Mengapa Motif ini di namai juga Batik Kubet karena fungsi utama batik ini adalah membungkus Pusaka Kubet. Pada tahun 2008/2009 salah satu keturunan Wit Waringin Rungkad yang ke 19 bernama Pangeran Anom menyadurkannya dan disempurnakan oleh Raden Sentanu Warinata dan mulai dibatik kembali Tahun 2017 yang dipakai dalam Kirab Agung Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa Masjid Kuno Gamel dihari pelal untuk menyambut Sulthan Kanoman atau Raja Pati Muhammad Qodiron dari Kesulthanan Kanoman Cirebon.




Batik Bale Panjang ini memiliki filosofi tersendiri:

  1. Simbol Kesunyatan, susunan dan komposisi gambar dan simbol dalam batik ini memperlihatkan kesunyian (Suwung ing Hisi, Hisi hing Suwung), Asesepuhing Asesepih Sepuhing Ngurip.
  2. Bale Panjang merupakan simbol tuntunan hidup (Rukun Islam lan Iman)
  3. Waringin Rungkad merupakan Piwulang Urip 
  4. Degradasi warna dalam motif Bale Panjang hanya ada 3 perpaduan warna: Hitam bisa untuk Dasaran atau Sunggingan, Putih bisa Untuk Dasaran atau Isen, Coklat bisa untuk isen atau Sunggingan. Hitam menyimbolkan keabadian/kekekalan dan kemutlakan (Tuhan). Putih merupakan simbol kesucian/kelahiran atau kenetralan (Fitrah/Alam). Coklat melambangkan perbuatan atau Dharma (Manusia). Tiga elemen ini tidak bisa dipisahkan dalam yang namanya kehidupan; Harus Menjaga Keseimbangan dan Harmonisasi hubungan Tuhan Alam Manusia (Habluminalloh Habluminal ardh wa Habluminannas).

Batik Tulis Motif Bale Panjang hanya digunakan dalam acara acara tertentu biasanya yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan atau tradisi juga penyambutan tamu yang diaggap terhormat.
Dalam Acara Tradisi Tahunan desa Gamel yaitu Kirab Agung Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa ada aturan pemakaian Batik Bale Panjang yang dikenakan oleh penyambut. Motif Bale Panjang Kubet dipakai saat Menyambut Sulthan yang mengandarai Kencana yang dilakukan 4 tahunan atau yang pelalnya jatuh di hari Ahad. Sedang pada acara Kirab Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa penyambut menggunakan Batik Bale Panjang Mangu, yang mengartikan acara yang lebih sederhana dan kekeluargaan.

Catatan
Motif ini memiliki dua jenis:
1. Bale Panjang atau Bale Kubet (di atas)
2. Bale Panjang Mangu

Senin, 29 Agustus 2016

DAHANA MELAR SAKACALA

.........Seloka Dahana Melar Sakacala

Run nulis panerat sasandiwarsa
(Memulai menulis sejarah rahasia masa)

"Dahana Melar Sakacala".
(Api yang tidak tau dari mana asalnya kian membesar dari kaki gunung/ sengkalan 327= 723H)
Ket: 723 H = 723 + 622 = 1345 M atau 1324 M

Mangsa kang kapungkur matra weptu.
(Masa yang telah berlalu sekian lama)

Kalaheng Sanghyang Semar sugigawe gawe pasujudan.
(Saat Sanghyang Semar sedang memiliki hajat membuat tempat solat)

Naga Janmatra wedal saka sagara mawah tetenget.
(Naga Janmatra keluar dari lautan luas membawah pasir hitam laut)

Wahudadi dadya giri panilas.
(Telaga yang berair sangat jernih menjadi bukit panilas)

Wit jati purba seseraheng Sang Batara.
(Pohon jati purba/sangat besar pemberian Sang batara)

Wangun pasujud amben ambah.
(Membuat tempat sholat berbentuk  tempat duduk yang luas)

Hucihuci rereyongan wehwehan kusara paliringsagara.
(Setan setan kecil/Uci-uci semua beramairamai memberikan rumput ilalang laut)

Katulis wanci jemenge jening kalamaya sirbidhirahsa.
(Tertulis pada saat itu dalam tahun Sirbudhirahsa: 015 = 510 H)
Ke t: 510 H = 510 + 622 = 1132 M atau 1111 M sbagai berdirinya masjid Tlatah Sarah Bahu
.............

............. Seloka Wodhohingasup


Hing mangsa tumurun Syekh Asupi.

Katah badal manggoneng tlatah sarah bahu ginahu sarahing ngurip.

Pasujudan tan tepung ing sope.

Sumurup sengengeng
Ngasup ngewodho Balepanjang mrih pangriyome waringin.

Giri panilas jembar kalangane sirbudhirahsa.

Kamis, 11 Agustus 2016

MAYU HAYINING TLATAH SARAH BAHU (Tradisi Gamel Sarabau)

                    "KUMUDA MARTYA MARWA"

Ing Kalaning  Srawana hing Bhadrawada tibahing Kartikamangsa Mayu hayuning tlatah hing Sarahbahu ¤
Wit Sanggo Sanur Kedaton tegese pecil-pecil kang wus rampung mulang ngaji Qur'an tutug telungdasa juz denpahèsi ing Sirbhudirahsa ¤
Denalungguh pangkonèng rama rikala jumenenging Balepanjang ¤ 
Sawerane bubur brit petak ¤
Mantraning hiku kekidungè Pamangkuh Dyin pangèling tetep hajeg nggonè mulang ngaji Alqurngan ¤
Bheksa ketan sawincuk ¤
Ngalangen Brahiyè branti Rèntèng tutug sawengi ¤
Bambang wètan bheksa kupat lepet hing Dhuku¤
Mayu walèning Balepanjang Matranan anegesi piwulang kang kesawang ¤ 
Wayang purwa Suryadiwasanta¤
Ong Umbulè Panunggul Bawana waptu surupè ¤ 
Pèrkawis kang pangajeng tepung warsa hipun ¤

Murdho: Jumuwah hananè dina hing Syè Ngasupi ¤ Patèka lawangè ¤ Kikidungnganè kulhuwawohu kakad¤ lan Bismillah tan pungkasan ¤ Tamat ¤ "

Mayu Hayuning Tlatah Sarabahu

Setiap antara Bulan Oktober - November masyarakat Desa Gamel Sarabau memiliki sebuah tradisi tahunan yang masih terus dijaga dan dilestariakan oleh masyarakatnya. Tradisi tersebut yaitu "Ngremeni" simbol keislamanan peninggalan leluhur Gamel-Sarabau. Simbol itu berbentuk Joglo yang diberi nama Bale Panjang.

Bale Panjang merupakan simbol agemaning manusia hidup sampai meninggal.  Berasal dari Bale yang berarti tempat tidur yang mengartikan kematian, sedang Panjang berarti piring tempat makan yang mengartikan hidup. Bagian-bagian serta Simbolis Bale Panjang:
- Kaki Bale Panjang berjumlah 6 yang mengartikan Rukun Iman. Hidup itu harus berlandaskan keimanan
- Saka berjumlah 5 (1 sepadang disatukan dan diselimuyi kain) mengartikan Rukun Islam. Hidup itu bertopang kepada rukun Islam. 
- Saka Gantet diikat/diselimutin kain mengartikan Syahadatain yang diikat kuat dalam hati dan laku lampah diri manusia.
- Papan berjumlah 17 batang yang menyimbolkan 17 rokaat atau sholat 5 waktu sehari semalam.
- Saka Asta berjumlah 4 yang merupakan simbol dari 4 Mazhab yang dipegang masyarakat Gamel Sarabau tidak fanatik salah satu mazhab (Ningal ing kabehe lan angguguh manut ukum mring Quran)
- Kayu Anggar berjumlah 9 yaitu simbol 9 wali

Bale Panjang setiap tahun diganti atap yang dari "Welit"  yang disebut Memayu Bale Panjang yang mememiliki pituah jika Anak Putu Esun sira samiya pada guyub mring tumindak eling/Muhasabah kangge sesae urip tur sumerehe. Adapun kegiatan ini sebagai seberikut:

     Setelah sholat jumat dibalai panjang di tabuh renteng/Brai sambil nunggu Gosaton datang. 
A. Sanggo Sanur Kedaton
     Kegiatan memberi penghargaan kepada putra putri Gamel Sarabau yang telah mengkatamkan Al Quran.
Kegiatan ini diawali penjemputan  & mengarak anak Gosaton ke Masjid Sirbudhirahsa. Di masjid Gosaton didandani lalu diarak kembali menuju Bale Panjang. Dan duduk di Bale Panjang dipangkuan Ayahnya.
- Saweran Bubur Abang Putih
Simbol pemberian sajian spesial dan hadiah kepada Gosaton tapi sebelumnya anak tersebut  membacakan beberapa surat yang ada di juz 30 yang dibagi sebanyak Gosaton.

- Mantranan
Dibacakan kidung yang berisi petuah agar anak terus mengaji dan mengkaji AlQuran oleh sesepuh tlatah.

- Sidqo Kemliketan
Membagikan nasi ketan kepada seluruh yang hadir.

Setelah magrib dilanjutkan tabuh renteng dan brai sampai tengah malam

- Kupatan
Hari sabtu pukul 0.530 masyarakat Gamel Sarabau dan keturunannya walau sudah tidak berdiam di desa Gamel Sarabau sidqoh ketupat ke Duku Majo, Duku  Patih, Buyut Waeingin.

- Memayu Bale Panjang
Pada pukul 06.00 masyarakat Gamel Sarabau bergoyong royong mengganti welit atap Bale Panjang.

- Matratan
Selesai Mayu Bale Panjang diteruskan sejenak akan dijelaskan makna-makna simbol atau peninggalan Orang Tua terdahulu (Buyut Gamel Satabau)
- Pagelaran Wayang Kulit sehari semalam suntuk.

- Umbul Panunggul Buwana

Yaitu kegiatan urun rembug poro Agengan, Ulama, Umaroh dan tokoh masyarakat di bale panjang untuk menyusun dan merumuskan kegiatan apa saja uang akan dilaksanakan seyahun kedepan.



Sabtu, 11 Juni 2016

Tradisi Desa Gamel - Sarabau Bagian 1

TRADISI DAN KEBUDAYAAN SIRBUDHIRAHSA
DESA GAMEL SARABAU KEC. PLERED KAB. CIREBON


Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa

Kegiatan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa dilaksanakan setiap tahun pada malam tanggal 21 - 28 Jumadilakir. Merupakan hajat besar seluruh warga desa Gamel dan Sarabau dalam memperingati peristiwa pemberian atap Masjid Sirbudirahsa oleh Kesultanan Cirebon dan Penobatan Pangeran Suradita sebagai Kuwu Tanah Kesucen Sarah Bahu ( Penegak Hukum Syari'at Islam). Kegiatan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa ini intinya dilaksanakan 7 hari berturut-turut yaitu pembacaan Surat Albaqoroh penuh oleh setiap santri yang berjumlah 21 orang dan di malam pelal dihadiri oleh Para Sulthan Cirebon. Sebelum 7 malam inti ada beberapa kegiatan yang dilakukan sebagai persiapan kegiatan tersebut, seperti:
- Pangrehyang Purwa (Urun rembug antara Dewan Adat, Perangkat Desa, RT & RW, DKM dan Kepemudaan)
- Pangrehyong Sapenumpengan ( Uluk Salam atau meminta ijin kepada Leluhur jika akan melaksanakan Nilas Bedhaya Sirbudhirahsa dengan membacakan Ratip Agung Panuratrahsa di Masjid)
- Nilas Sebah Sinarehan (Ziarah ke Maqom para Buyut Desa Gamel - Sarabau)
- Nata Ayu Bawana (Pematangan persiapan kegiatan dan pemasangan Umbul-Umbul di sepanjang jalan Desa Gamel Sarabau. Umbul-umbulnya berbentuk Batang Bambu utuh yang disisahkan daunnya hanya diujung dan dberi hiasa Janur/Ceting hias dan batangnya diberi kain warna)
Dan malam malam berikutnya selama 7 hari dilanjutkan kegiatan inti seperti: Ngilari Banyu Tirta Wening Parapara, Kawin Banyu Tirta Wening, Ruwah Payung Kencana Agung, Kilasara Laras, Sepetakiran, Sebah Sinarehan, Nyawat Parapara, Luwe Laras Renteng, Bedhaya Pinangeran atau Matepis Adhi Nata Walan, Kidung Ratib Agung Panuratrahsa dan Ruwat Pancer Bawana.




Memayu Balai Panjang

Kegiatan Memayu Balai Panjang atau disebut Sedekah Bumi Desa Gamel-Sarabau yang bertempat di Buyut Waringin desa Sarabau. Kegiatan ini berupa jam 05.30 - 06.30 masyarakat berbondong-bondong menysrahkan ketupat lepet atau Jabur ke Maqom Buyut. Jam 06.00 para lelaki dewasa akan berkumpul dan bergotong royong memayu balai panjang serta diadakan pegelaran Wayang Kulit sehari semalam suntuk. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada sabtu minggu pertama bulan November.

Sendang Kahuripan
Sendang kahuripan atau Mapag Sri adalah Kegiatan sebagai ungkapan rasa syukur atas datangnya musim menanam yaitu dengan mengadakan pegelaran Tabu renteng semalam, dan Juragan Tanah/Kepala Desa diarak dengan iringan tabuh brai menuju sawah untuk menandakan mulainya menanam padi.

Bambang Sari
Kegiatan sebagai rasa syukur atas panen yang telah dilaksanakan. Saat panen sawah terakhir diadakan pegelaran tabuh renteng 2 hari berturut-turut dan paginya juragan tanah/Kuwu diarak dari sawah membawa seketeng padi ke balai desa diiringi Tabu Brai dan dimulai pesta desa biasanya diadakan pegelaran wayang kulit sehari semalam suntuk. Pada hari berikutnya dilaksanakan "Sebah Bebranti Wangsa" yaitu sebah ke keraton Kecirebonan 21 perwakilan dengan membawa hasil panen.

Ratiban Duku Majo
Kegiatan sidqo orang-orang yang memiliki sanak famili yang telah meninggal berupa makanan atau jabur. Dan diadakan pegelaran Tari Topeng dan Lais/Sintren di Duku Majo Desa Gamel.

Lepet Budhahan
Lepet Budhahan atau Lepet malam reboan adalah Kegiatan yang dilakukan pada 7 hari setelah Idul Fitri yaitu dipilih malam Rabu dengan bentuk kegiatan Tahlil/Ratib Agung Panuratrahsa di Masjid yang dihadiri oleh seluruh Warga Desa Gamel Sarabau. Dan akan diberi bekal sepasang lepet ketan.

Hadidharma Komala Shiyam
Yaitu kegiatan memakmurkan bulan ramadhan, yang memiliki beberapa kegiatan, seperti:
- Munggah Pamangkuh yaitu kegiatan pada malam sehari sebelum melakuka  terawe/puasa dengan mengundang masyarakat untuk datang ke alun alun desa untuk makan bersama dan silaturahmi saling meminta maaf dan memaafkan.
- Ngalasa Kilasara Nyarah Bahu yaitu kegiatan pada malam ke 27, "Ngebeki Pamidang". Kegiatan ini adalah setiap RT yang ada di Desa Gamel Sarabau mengutus satu pasukan untuk mengkatamkan Quran semalam di alun alun dengan beralakan tikar yang ditempati sekataman.
- Ngaras Klaras
yaitu kegiatan semacam takbir keliling yang dilakukan pemuda/pemudi desa Gamel Sarabau selepas Isya malam 1 syawal...berkeliling bertakbir dan membawa obor serta silaturahmi ke rumah para toko masyarakat desa Gamel-sarabau.

Selasa, 19 April 2016

Asal Usul Desa Gamel (Tlatah Kasucen Sarah Bahu)

"Wit Waringing Rungkad"





Anindya Jatiwangsa
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Alloh SWT sehingga penyusunan sejarah singkat Tlatah Sarah Bahu & Masjid Kuno Sirbudhirahsa Nuurul Karomah Desa Gamel Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Solawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke kehidupan yang beradab. Kita ketahui bahwa berbicara tentang Tlatah Sarah bahu & Masjid Kuno Gamel tidak lepas dari tokoh sentral yaitu Syekh Sulaiman Bagdadi atau Syeh Semuningaran yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Syekh/Sanghyang Semar, yang bergelar Syekh Indu Aji 1 (Dalam Penulisan Carakan Seh Hindu Haji) yang memiliki arti Ulama yang mengajarkan/menjadi guru para Raja/Sulthan (Aji). Syekh Hindu Haji 1 mendirikan/membangun Masjid dengan Sengkalan Sir (0) Budhi (1) Rahsa (5); 510 H (dalam kaidah Aksara Rikasara untuk penulisan angka dibaca dari belakang 015 dibaca 510) atau 1132 M (Dalam keyakinan sebagian masyarakat Masjid Kuno Sirbudhirahsa dibangun pada tahun 1111 Masehi).
Setelah Syekh Hindu Haji 1 wafat diteruskan oleh putranya yang bernama Syekh Zainal Dulkatsir (Syaikh Zainal Abdul Katsir/Syaikh Nurjati 3) yang dikenal dengan nama Syekh Idofi Karomalloh disebut pula Syekh Hindu Haji 3, dan hutan awanguwung kian rame oleh para pendatang untuk menimbah ilmu islam sehingga dikenal sebagai Alas Tlatah Sarah Bahu dalam bahasa sekarang dapat disamakan dengan pesantren. Telatah Sarah Bahu kemudian dipimpin oleh Syaikh Zainal Ridahudi yang dikenal dengan sebutan Syekh Dat Kahfi atau Syekh Hindu Haji 4 yang mulai mengajarkan kepada para "Pangeran".
Pada masa Syekh Assyufi Sirnurulloh (Syekh Hindu Haji 5) Tlatah Sarah Bahu makin berkembang dan kian banyak yang ikut menimbah ilmu agama dan Pasujudan sudah tidak muat lagi menampung jamaah sholat, maka Masjid Sirbudhirahsa dipugar untuk pertama kalihnya. Memperluas bagian Masjid sehingga bisa lebih banyak menampung Jemaah waktu sholat. Diperkiraan pemugaran ini terjadi pada Awal Abad ke 13.
Tlatah Sarah Bahu kian berkembang sehingga terbentuklah Padukuan Maja pada masa Syekh Muji Dipati Jalalulloh atau Syekh Hindu Haji 6.  Padukuan Maja dipimpin beberapa generasi:

  1. Syekh Mujawati Qudratulloh (Syekh Hindu Haji 7), Tlatah Sarah Bahu Padukuan Maja kian berkembang hingga mencakup daerah Kadipaten.
  2. Nyimas Halif Lambang Siti Napisah yang menikah dengan Pangeran Lelana Sabahwana. Pangeran Lelana Sabahwana meneruskan mertuanya memegang Tlatah Sarah Bahu (Pesantren) Padukuan Maja, saat itulah Tlatah Sarah bahu tidak hanya mengajarkan ilmu agama tapi juga tata negara dan kanuragan para senopati dari berbagai kerajaan dan kesultanan.
  3. Pangeran Rengas Delik atau Pangeran Sada Lanang/Nawa Diningrat. Dengan kepandaiannya maka Pangeran Rengas Delik diminta membantu melatih para prajurit dan panglima Kerajaan Mataram Islam yang saat itu masih lemah karena baru berdiri. Dan diberi hadiah seperangkat Tabu Renteng kesayangan Putrinya Raja Mataram.
  4. Pangeran Surah Dinata atau Pangeran Anom Tali Brata. Masa Pangeran Surah Dinata Masjid Sirbudhirahsa mendapat bantuan dari Sulthan Kanoman yaitu pembuatan Balai desa serta pemberian atap masjid sirbudhirahsa pada tahun 1625. Sulthan turun langsung dalam pembuatan Atap Masjid Sirbudhirahsa 

Para Pamangkuh Tlatah Sarah Bahu

  1. Syekh Sulaiman Bagdadi atau Syekh Semuningaran Atau Syekh/Sanghyang Semar. Dalam 4 kitab, dalam 2 Kitab mengatakan putra dari Syekh Zainal Kabir & 2 Kitab lainnya Syekh Suleman Bagdadi bernama Asli Syaik Zainal Kabir. Karena Su-Leman adalah julukan yang berarti Su (Indah/Halus), Leman (Orang yang penuh tata krama). Berputra:
  2. Syekh Zainal Jaluli bergelar Syekh Nur Jati I. Berputra:
  3. Syekh Zainal Abdul Katsir (Syekh Zainal Dulkatsir) atau Syekh Idofi Karomalloh bergelar Syekh Nurjati II bergelar juga Syekh Hindu Haji I. Berputra:
  4. Syekh Zainal Ridahudi atau Syekh Dat Kahfi bergelar Syekh Nur Jati III bergelar juga Syekh Hindu Haji II. Berputra:
  5. Nyimas Jagung menikah dengan Syekh Assyufi Sirnurulloh bergelar Syek Nurjati IV bergelar juga Syekh Hindu Haji III. Berputra:
  6. Syekh Muji Dipati Jalalulloh bergelar Syekh Nurjati V bergelar juga Syekh Hindu Haji IV. Berputra:
  7. Syekh Mujawati Qudratulloh bergelar Syekh Nurjati VI bergelar juga Syekh Hindu Haji V. Berputra:
  8. Syekh Nurmujirati bergelar Syekh Nurjati VII bergelar juga Syekh Hindu Haji VI. Berputra 5: a. Syekh Delik Semuningaran, b. Nyimas Kawang, c. Nyimas Sokatir, d. Nyimas Baris, e. Syekh Waru Ulamah.
  9. Syekh Delik Semuningaran bergelar Syekh Nurjati VIII bergelar juga Syekh Hindu Haji VII. Berputra 5: a. Nyimas Halif Lambang Siti Nafisah atau Nyimas Sekar Wana, b. Syekh Genda Wana, c. Syekh Kawatu, d. Syekh Hursiman, e. Nyimas Layus.
  10. Nyimas Halif Lambang Siti Nafisah menikah dengan Pangeran Lelana/Pangeran Adi Branta Berputra:
  11. Pangeran Nawa Dinata atau Pangeran Kerta Kesuma Berputra:
  12. Pangeran Rengas Delik menikah dengan Ratu Kencana Indriyah berputra:
  13. Pangeran Anon Talibrata menikah dengan Ratu Halimah binta Pangeran Sendang Gayam (kakak perempuan Pangeran Karim Girilaya), berputra
  14. Pangeran Sura Dinata berputra: 
  15. Ratu Fatimah, kagarwa Pangeran Panengah Kaprabon Berputra 3: Pangeran Abdu Sayyid, Pangeran Abdur Kawas, Nyimas Sarifah
  16. Pamgeran Abdu Sayyid, berputra Pangeran Sayyid Alim dan Pangeran Sayyid Iman
  17. Pangeran Sayyid Alim, berputra:
  18. Pangeran Mangkuh Raga. Berputra:
  19. Pangeran Adi Panatawijaya, berputra Pangeran Raswi Nurbadan dan Pangeran Adi Yutatama (Ki Diyut ke Garut)
  20. Pangeran Raswi Nurbadan. Berputra:
  21. Pangeran Janmo Ikhsan. Berputra: Pangeran RA Akhmad Kawangsi (Ki Ahmad), Nyai RA Tasyari Ratu Indrya (Nyi Tiri), Nyai Kasturi Ninglubuwana (Nyi Kanil), Yai RA Manggala Buwana (Ki Manan), Yai RA Takbaru kriyasono (Ki Takiyo), Nyai RA Dimitri Linggabumi (Nyi Dimi), Nyai Ratu Indriya Ningsih (Nyi Rini), Yai RA Sadur Bumi (Ki Sadmi), Yai RA Sastra Kamulyan (Ki Sarkam)
  22. Pangeran Rogo Suci Akhmad Kawangsih. Berputra:
  23. Nyimas Mayang Ayu Damasarha Indrya Ratu Inayatulloh. Berputra:
  24. Raden Dulur Anom Rahadyan Ikhsanurud Daudi Akbar Guratpanuratrahsa Ahmad Elwangsih Mujidiningrat bergelar Pangeran Anom Panuratrahsa.

Madepis Hadi Nata: Pangeran Raja Muhammad Qoduron 
(Patih Kesulthanan Kanoman Cirebon)


  1. Assyaikh Sulaiman Bagdad
Syaikh Sulaiman Bagdadi dikenal dengan Syaikh Semuningaran yang oleh masyarakat di panggil sebagai Syaikh/Sanghyang Semar yang bergelar Syaikh Nurjati 1. Dalam Naska kuno disebuah kulit bertuliskan Rikasara & Pagon yang dulu dipegang oleh Almarhum Kuncen Duku Majo menerangkan Kedatangan Ulamah ke Gunung Semar dan pembangunan Masjid/tempat pasujudan di Telatah Sarah Bahu atau Wit Waringin Rungkad.
Bismillahi amimit awedar kawitaning slokaning mangsa 
Malih Duta Wali Hagung 
Seh Resi Tlatahing  Ambiyah 
Katah cantrik sabah liya 
Ageng Karomahe 
Hangrindon Lintang Kerti 
Nyabah seten hasepi 
Titahing Hyang Widi 
Ngalebet Ngriyom Sadat Tan kawitan 
Dwara Brahmanastha Suci 
Lanjaran Pangurip Sepapa 
Jalaniddih Kalampahan Dumugi ngaCala 
Ngalas Hawanguwung 
Manggonrip Telenging Wana 
Ngasepihing tan tebih Pangdugi 
Manunggaling Cipta Mring Hyang 
Jasad Mannur Candra Manimpunan
Sumubar Jalma Angasuh Wari 
Sarah Bahu Agemaning Hurip 
Kawontar Sanghyang Semar

Dengan Menyebut Isim Alloh, Mengawali untuk membuka asal mulanya sejarah Seorang Ulamah Besar yang menjadi utusan, Syekh Suci yang berasal dari tanah para nabi, yang banyak memiliki murid dari negeri lain untuk menuntut ilmu agama. Yang terkenal begitu besar karomah dan keutamaannya. Menerima perintah/petunjuk dari Alloh untuk hijrah ke tanah sepih (Pulau Jawa), perintah langsung dari Tuhan Yang Maha, Memasuki Mengayomi sahadat tanpa awalan (baca: yang langsung memenuhi keinginan hati tanpa lagi yang membuat ragu). Ini merupakan awal dari kedatangan para ulama besar ke tanah Jawa (Dwara Brahmanastha Suci = Pintu depan/awal masuknya 8 Ulamah Suci/yang mengarungi lautan ke tanah jawa = Sengkalan 489 H/ 1100 M). Syekh Sulaiman berangkat ke tanah jawa mengendarai Setangkai Dahan Segar. Mengarungi samudra luas hingga sampai di kaki gunung (Gunung Jati yang sekarang dikenal patilasan gunung semar), hutan belantara yang masih begitu lebat bagai tak berhuni. Membuat tempat tinggal di tengah hutan (Alas Sarah Bahu), sedang tempat menyepinya (Kholwat) tidak jauh dari tempat Syekh pertama kalih berlabuh, menyatukan Rahsa dan Cipta kepada Alloh Swt sehingga jasadnya memancarkan cahaya yang berkilauan hingga terlihat dari kejauhan dan membuat banyak orang berbondong-bondong datang untuk menimbah ilmu. Ilmu ketauhidan dan Sare’at Islam untuk pegangan hidup. Sejak itulah Syekh Sulaiman Bagdadi terkenal sebagai Syekh Semuningaran dalam lafad penduduk menjadi Sanghyang Semar.


Prun Panerat Sasandhiwarsa
Dahana Melar Sakacala
Mangsa Mungkur Matra Weptu
Sanghyang Semar Sugi Gawe
Gawe Pasujudan
Naga Janmatra Wedal Sagara Mawah Tetenget
Wahudadi Dadya Giri Panilas
Wit Purba Seserahing Hyang Batara
Wangun Pasujud Amben Ambah
Huci-Huci Rereyongan
Wewehan Kusara Paliring Sagara
Kawanci Jumenge Jening Kalamatya
Sir Budhi Rahsa
"Dimulai menulis rahasia masa, Api yang tidak diketahui asalnya kian mebesar dari kaki gunung (di belakang gunung jati yang disebut patilasan gunung semar), akan masa lalu yang telah berlalu, Sanghyang Semar (Syekh Suleman Bagdadi/Syekh Semuningaran/Syekh Hindu Haji 1) sedang memiliki hajat, membuat tempat sholat, Naga Janmatra keluar dari dasar laut membawa Lumpur Pasir hitam (tetenget), Telaga/Laut (diurug dengan pasir hitam)  menjadi Bukit Panilas, Pohon Jati Besar bantuan dari Hyang Batara, Dibuat tempat sholat berbentuk Balepanjang, Hucihuci (setan kecil) saling membantu dengan memberikan Rumput ilalang rawah (tepian laut), Tertulis sengkala "Sir Budhi Rahsa" (Tahun 510 Hijriyah)
Kirab Agung Komalan


Angawit sun bismillahi
Kekidung asmarandana
Teguh hayu satemene
Anulis laku ning mangsa
Geguritan pujangga
Kang angguguh pangaweruh
Tembung slokaning wongtuwa

(Aku memulai dengan membaca Bismillahi
Menyanyikan Pupuh Asmarandana
Dengan kemantapan dan ketenangan
Menulis perjalanan waktu
Menyusun cerita seperti sastrawan
Yang menggalih pengetahuan
Ucapan nasihat dari orang tua)

Teka gumingsa gumingsir
Ngilari padanging mannah
Ayun ngampura sagunge
Ingsun wani rikasara
Cinarita kawitan
Mangsane kang wus kapungkur
Seh saka tlata ambiyah

(Muncul rasa yang menggebuh-gebuh
Mencari pencerahan hati
Meminta ampunan atas segala kekhilafan dan kelancangan
Karena berani bercerita asal mula desa gamel
Zaman yang telah berlalu
Tentang Syekh dari tanah para nabi)



Siti poro rosul nabi

Pancering panatagama
Sabda ratu kang diyagem
Manut mring nabi pungkasan
Yahiku Seh Suleman
Bagdadi ingkang pinunjul
Jejuluk Semuningaran

(Tanah para Rasul Nabi
Pusatnya Penyebar Agama
Kalamulloh yang dipegang
Mentauladani kepada Nabi Akhir Zaman
Yaitu sejarah Syekh Sulaiman
Dari Negeri Bagdad yang unggul
Yang bergelar Syekh Semuningaran)

Kang lelaku dharma tama
Netepi pesten Hyang Widi
Hijarah ngamba sagara
Semuningaran bagdadi
Panditeng Ram nagari
Manuting Gusti pinuju
Salokaning witana
Nuranggananing Pangurip
Ngambang kampul ngambyak pancering segara

(Yang menjalankan perbuatan utama
Menuruti takdir Tuhan Yang Maha Kuasa
Hijrah melewati lautan luas
Syekh Semuningaran Bagdadi
Guru besarnya sulthan Negeri Rum
Mengikuti kehendak Tuhan yang dituju
Menyebrangi laut dngan menggunakan pelepah korma
Terombang ambing di tengah laut)



Tutug wengi tutug dina

Dugi hing tataran jati
Wana hamba tanna nungsa
Halas awanguwung iki
Tepung paningal sepih
Merkayangan umbulumbul
Sato lan kewan galak
Geger manjrit mrangsak kaki
Dugine manungsa Nur Komala Jagat

(Siang malam berlayar menyebrangi lautan
Hingga sampai pada dataran
Hutan lebat tak ada manusia
Inilah Hutan belantara Awang Uwung
Sejauh mata memandang yang ada hanya sepi
Hanya tampak para Siluman
Binatang dan Hewan liar
Semua menjerit menyerbu Syekh
Kedatangannya manusia Cahaya Alam)

Seh Semuningaran bagdad
Jumenenging manggon urip
Hing tengahing wana rungkad
Paliring sagara jawi
Batara ngapanggihi
Dugi Seh wus gawe hibur
Mung pestene Kang Mola
Batara mring Seh Semar Sih
Ngrestoni Seh Semar ngawit Nilas Mangsa

(Syekh Semuningaran Bagdad
Hidup dan menetap
Di tengah hutan belantara
Tepian laut jawa
Batara/Raja Siluman datang menemui
Karena kedatangan Syekh telah membuat kacau
Hanya saja sudah menjadi kehendak Yang Kuasa
Batara merasa asih kepada Syekh Semar
Memberikan restu kepada Syekh Semar untuk memulai membuat sejarah)

Wayah wulan patbelas
Seh medal saka palinggih
Katingal cahya pepadang
Jagat krasa adem Wening
Sato kewan lan wiwit
Samya cinarita ulun
Benjang panatagama
Wangun dadya natagari
Ngislam ageme teng riki kabeh nungsa

(Saat rembulan purnama
Syekh keluar dari tempatnya berkholwat
Terluhat olehnya cahaya yang terang benderang
Alam terasa begitu tenang dan cerah
Binatang Hewan dan pepohonan
Semua bercerita kepada Syekh
Kelak seorang ahli agama islam
Membangun dan menjadi seorang Raja
Mengislamkan semua manusia di tanah kekuasaannya)

Nur ilahi tumurunan
Nitising putra pratiwi
Wangsahe saka pajajar
Kalungguhan Rehing Nabi
Wujar Seh Semar kaki
Haris takenteni hingsun
Hing wayahe yen teka
Wus ketampi waskita Ji
Seh tumurun bumi ngalampah bawana

( Nur ilahi turun
Menitis kepada putra pertiwi/pribumi
Keturunan dari kerajaan pajajaran
Memiliki garis keturunan Nabi Muhammad
Berucap Syekh Semar
Dengan lemahblembut berkata: saya tunggu waktunya tiba
Telah diterima gamvaran yang sejati
Syekh turun ke bumi jalan memutari alam)

Manggon ing tengahing wana
Golang ngurip manungsa tami
Wangun satunggal panggena
Hingatase wawu dadi
Dasar Seh wong panuji
Langgar lawang kroya iku
Ngaran Sir budhi rahsa
Candra kalaning Nurjati
Tetengere tinukul waringin rungkad

(Tinggal di tengah hutan
Membangun dan hidup menetap sebagai manusia utami
Membangun satu rumah
Di atas danau yang sangat jerni
Dasar Syekh orang terpuji
Masjid pintu kembar
Bernama Sirbudhirahsa
Nama tersebut menjadi Sengakalane Syekh Nurjati
Ditandai dengan menanam Pohon Beringin Rungkad)

Iki tembange pujangga
Duku Sarabau tami
Kawitan cumbuh manungsa
Jejuluk Seh Hindu Haji
Ageming Ngelmillahi
Sahdat tan kawitan hiku
Bismillah tan pungkasan
Anitis luhuring budhi
Seh Semar sabda Hongji sirbudhirahsa

(Ini syairnya sastrawan
Padukuan Sarabau sejati
Awal mula adanya manusia di tanah kasucen
Bergelar Syekh Hindu Haji
Pegangannya Elmu Alloh
Syahadat tanpa awalan
Bismillah tanpa akhiran
Menyatu dalam kebaikan budhi
Syekh Semar Menulis kitab Hong Dji di tahun Sirbudhirahsa)

  1. Assyaikh Zainal Abdul Katsir
Assyaikh Zainal Abdul Katsir atau Syaikh Dul Katsir atau Syaik Idofi Karomalloh bergelar Syaikh Nurjati 3 atau Syaikh Hindu Haji 2. Pada masa Syaikh Idofi tlatah Sarah Bahu mencetak beberapa Ulamah yang menyebarkan islam di tanah jawa. 
Padang Trawangan,
 mangkuh pangkone ramah,
 Syekh Dulkatsir atitah badal, 
Hyang Sakti Dratula, 
Bayabyastha kidul Gungacala, 
Ratu Hayu Jaladri. 
Batara Baladhi ngalana, 
poging siten ngambyak kiyat, 
Batara Pamayu Hagung kadaten pandugi.

  1. Asyaikh Zainal Ridahudi
Setelah wafatnya ayahnya Syaikh Zainal Abdul Katsir tlatah Sarah Bahu dipegang oleh Syaikh Zainal Ridahudi atau Syaikh Dat Kahfi atau Syaikh Nurjati 4 atau Syaikh Hindu Haji 3. Pada masa Syaikh Ridahudi ini diturunkannya Ngelmu Pogpoganing Jagat kepada Sunan Gunung Jati sebagai penobatan Sulthan Cirebon menggantikan Uwa sekaligus mertuanya. Terdapat dalam cinarita:

ﺒﺴﻢﺁﷲﺁﻠﺮﺤﻤﻥﺁﻠﺮﺤﻴﻢ
Yontar Ki Ageng Gamel puniki
Pupuka maramanadandang
Pengangguran teka yenne
Nulis turon tinundung
Wong peksa gumingsa ya puniki
Teka ganggu gaweya
Ginawe wineruh
Marang anak putu ika
Anu lumayan kayoman dening iki
Sapantaring bujangga

Ingkang pintering pitutur elmi
Kang tinutas putus sikasa
Yohiku sala tunggale
Unggale kang bisa anganggit
Mangkat aguguritan
Pon kuwayang iku
Yenna ingkang lagi ewa
Ewu tinemen pisan sengat asengit
Maring wong bodoh dugal

Bader budigal jugul budigil
Wis kawontar wentir culirang
Arang langkah yen geleme
Lamuna cule mulus
Ketilas kelid kelud iki
Sepi supa supaya
Kang ormanci iku
Ya maring bujangga anyar
Supayana ingsun wus sisan wis kengis
Kongas lamon aleman

Kaserung serong serung powani
Pintera tindak tanduk nyata
Sasar susure kasoreng
Beda budi puniku
Kang tama ora rugu rigi
Pantes patiti tuntas
Ingsun kang aniru
Katerangan tari harkat
Dadi ing suwaya waya pola ati
Wayahe wong sedengan

Sedengane suwung lagi branti
Raosane mring dewekira
Temahe angame ngame
Among panedahesun
Mangga katur maring Hyang Widi
Angsala pangampura
Dorakane katur
Wani wani dedongengan
Dateng rasiya ingkang tinemen jati
Rinenggarah kang nggurat

Ki Gede Gamel ananeng jati
Kaya kidung lelayungan
Ing wengi iku nyatane
Tan warana ateguh
Hayu cinarita babaring
Wedar babadan beja
Sasmitaneng gugu
Siti nggil Gamel anata
Jumenenganing wana sarabahu iki
Paranti kang waskita

Among ingkang senyata puniki
Leres temenengan carita
Jati babad kang tinemen
Kidung kridaninganut
Ngampura kaheksi lanca linci
Wewaniyan budigal
Budigul lelamun
Laku utama surjana
Geguritan babad ingkang rasiya Ning
Sanget atenemenan

Ingkang cinipta kawontar watir
Watiring damel iyege rat
Iya tataran kalane
Wit kang sampun ateguh
Yoga kang densipatan aji
Mendem soreng bumirat
Maring Hyang Hestu
Karep rumaksa kinajat
Ampura sedaya luput kula iki
Den sumbadi Allah

Ridoneng rindonan mring ilahi
Puniku kalimah sasmita
Poma poma pangawruhe
Iki salsila ingsun
Den bisa den nganggo laku tami
Ngelmu pogpogeng jagat
Tumindak lelaku
Dunya teka ing akerat
Senajan bapak biyang aja saniki
Aja den wehi wruhan

Ing silsila siti gamel iki
Poma poma dohir aja
Haram lamon ningalane
Liyan sasmita niku
Wedar candrakalaning
Towi Tunggal Manggala*
Kelawan kalam Qun
Sih gusti duku kacipta
Ing salebete wana sarabahu niti
Wetan kilene pinaran
*(Maring siji Gusti Kang Nyata=814H)

Sengengeng memadang kidul iki
Giri kaler segara ambah
Hak iku towang jembare
Tunggal uwit tinukul
Gambir manungsa kang utami
Se Hindu Haji ika
Kang prayoga iku
Ing paparan jati ngaran
Ki Gede Gamel iku Se Datul Kahpi
Se Nurjati sanyata

Manungsa becik bagdad nagari
Siti Cirebon kang anglampahan
Gamel pasanggrahane
Ing genahe puniku
Manggoneng wilasita jati
Ing pinggire prawata
Segara kalering
Ingkang gadu kalih duta
Cantriking peputra pajajaran tami
Ki Ageng Gamel kersah

Damel ngadadosan langgar alit
Ingkang jeneng lawang keroya
Ing panalinga tlagahe
Waudadi kang muwus
Ngipyar ngipyaring tlaga wening
Sucihing tirtamarta
Netep urip laku
Utama sirna rahsa kadunyan
Nglakoneng ingkang sejatine sakdatin
Nyepuhingurip nata

Sirno badan cahyo jumenenging
Kang gunemaning wewayangan
Se Hindu Haji wateke
Ing sakadat anggugu
Kasebat manungsa linuwi
Wruh sadurung winara
Saderenge iku
Dadi kadadosan nyata
Hing parantining mangsa gama ngutami
Sih saking gusti Allah

Kang dadi ngelmi pitedah ngurip
Manungsa laku ngalam dunya
Bakal kawontaring jembare
Bumi jawi kang mayu
Mring piro piro poro wali
Kigeng Gamel ngandika
Yen anuti ingsun
Rahsa salira kawula
Nora cukul Gama islam kangutami
Sinaged jumenengan

Cinukul ing bumi siti jawi
Ingsun kedah angreka daya
Numurunan pangelmune
Marang kang dadi dunung
Ing gumununge poro wali
Sun bade reka daya
Ngayipati iku
Mangrupa rupeng panguron
Ngadadosan wana sanalika hiki
Duku gamel katingal

Dados alas rungked kangatitis
Wit wringin rungked sasmita
Ya candrakalaneng rungked
Siring Budi Indriyu*
Kasebating Sarahbahuni**
Tan gancang pangandika
Tan samara tan semu
Ingkang nyata tan warana
Sejorohing rasiya gamel anuti
Ingkang wus gadu kodrat
*(Goibing Budi Panca Indra=510H)
**(Sarah=Nuntunan/sarengat, Bahuni=bau=luas = Banyak => tuntunan yang luas. Bau=pangambu=napas=urip => Tununan/Pitedah Urip)

Katur kang dadi keduwe mami
Ika rahmat gusti Pangeran
Jagat pangarindonaneng
Kang wehing pangaweruh
Dedalan kedadosan jati
Bok menawi wus mangsa
Tumeka ing weptu
Pangajeng kang den kinajat
Kapanggih mring saking pangestuneng gusti
Owloh kang amisesa

Nalika alas rob dadi
kelem toya samarandana
wateringtyas kigeng Gamel
duh saking sihing Pangeran
ana dalan wong kocap
saking tuduh lan pitulung
gusti Owloh kang amurba

Yenna panggonan sun iki
Bakal kedadosan telaga
Kilaran mring bendungane
Hing tatangkil panalinga
Jatineng wilasita
Dadi dedalane laku
Ya wis ingsun tan sulaya

Temen bade ingsun niki
Laku sebah kang sanyata
Wawar bendungan penganten
Lawan estuneng pangeran
Sekedipaneng pripat
Ki Ageng Gamel pon lebuh
Palireng iku bendungan

Neng kono den kinunceni
Gelung sakti sareng garwa
Nyi Gandasari arane
Kang kahutusan wong tuwa
Pangeran Cakra Buwana
Aningali tiyang sepuh
Reka babaheng bendungan

Karone geginancanging
Dawu kocap sasrampangan
Tur laksana prangtandinge
Adu ngelmu kanuragan
Among sampun dasar
Nyimas Gandahan Magelung
Lir ujel tanding lan ulam

Wis watek babaring wesi
Kasoran nora kiyat
Apes Magelung karone
Tan bisa munjuli gegana
Temen kasorananya
Mring Kigeng Gamel puniku
Se Magelung Nyimas Gandahan

Kasoran nujuh pepati
Den cemplunganeng segara
Kuwu Cerbon nalikane
Ningal putrane perlaya
Kersa sumbadan badan
Kersa karep ing tetulung
Anak acine katresnan

Tega lara nora pati
Idep idep katingalan
Mbah kuwu nampi karone
Sore ing segara ambah
Ika wus dadi kodrat
Hyang Suksma wisesa iku
Dadosa wiji carita

Dandanggula cinarita swiji
Wawar wuwur awosing tingal
Sumbari sumbarinane
Turon tanding puniku
Cega dahar laku tami
Gancange pangandika
Kang tan woran laku
Perang tanding gegamana
Leled deder Mbah Kuwu adu pangelmi
Kigeng Gamel prang yudha

Nemen deder kang mokal ilanging
Tanding hing wruh pogpogeng jagad
Pangandika hing teguhe
Dawa dintenaneng wus
Deder wader prangtanding patih
Ngadu kalangan gigamana
Winedar pangelmu
Sami sakti padho jayo
Medala ngelmu kaluhunganeng mami
Pungkasan gigamana

Sangkan prang tandingadu ngelmi
Mbah Kuwu Caruban wus teka
Tumeka ing tur mangsane
Wus wayah aneng nuju
Pangapesan Mbah Kuwu pati
Boten saged ngasoran
Kasaktenan ngelmu
Denagem Ki Gamel yoga
Tatraneng wus sanes makome kaki
Kuwu Cerbon keteteran

Lemebuhaneng gegana pati
Patining kang sampun kasoran
Ningal nguwak pinujune
Kasoran ing pangelmu
Hing selebete adu ngelmi
Marang Ki Ageng yuga
Kersa Sunan Gunung
Jati ngunjuk tetulungan
Hiku wus pesten  Gusti kang Moho Suci
Suci ing wujud ika

Panggawenaneng apangal suci
Ya pon kudu neng laku yuda
Nuduh kwasa Pangerane
Dudu kelawan satru
Saka kajatana ingkang becik
Weptune lelakonan
Pon tunggal kinidung
Tinunggaleng marang babad
Cinaritaneng unggal paparan jati
Tumekaneng gegana

Perang tanding pangadu pangelmi
Karone podho samya jaya
Podho sakti deder wader
Sami teguh pinunjul
Tan kasoran dasar pinuji
Toyagamana perang
Saluhureng banyu
Swe santer kelud keludan
Girigamana prang saduwureng giri
Wedalaji pungkasan

Ngempaknang ngelmu kang luhung jati
Tan eling surap surup waya
Sumbari sumbarinane
Dasare Se wong ulu
Resep ngati Se Hindu Haji
Ya ingsun iku kersa
Nyukani pangelmu
Tan becik perang leledan
Kedah nelasi prangadu ngelmi iki
Boten sah lami lamat

Mring Sunan Gunungjati nenampi
Ki Ageng Gamel angandika
Sabda dawuhe saka Se
Miyarsi uluk Se Hindu
Putra bagus mesir nagari
Ngalampah bumi jawa
Pancering pangelmu
Carbon nagari anata
Ingsun tan saged kasoran maring mami
Uga marang salira

Mung sun uga tan saged ngungguli
Perang tanding pangelmi bana
Ywa sun saged kasorane
Ing salebete prangadu
Pangelmi kesaktenan iki
Kedah dalem pinutra
Cerbon kang jejuluk
Asma Sunan Jati Purba
Ngagem ngelmu ingkang sun agem pangelmi
Pogpoganeng jagat

Pangandikahe Se Hindu Haji
Ngelmu kang bade den masraha
Ngge nurunan ngelmune
Mring Se Sunan Gunung
Se Purba nampi binga ngati
Restuning tinampihan
Sejatineng ngelmu
Sejati ingkang sampurna
Kang den turun tan lawan wulang ngelmi
Sanes budigal krida

Lawan sir kang tineratan aji
Wiwara gohib ingkang nyata
Sloka wong tuwa kang leres
Asajatining ngelmu
Sejati tan kerana tulis
Wulang siring grahita
Dasar Sunan Gunung
Kang awos waskita pangaweruhjati
Elmi luhung utama

Sopo ika yen Se Hindu Haji
Hiku Se Nurjati kang nyata
Minangka guru pyambeke
Wongatuwane iku
Pangeran Cakra Buwana iki
Pituna Jati Purba
Rumangsa keduhung
Napa kula boten kemutan
Yeniki guru kula kang sejati
Kapituna kawula

Kula densebat manungsa becik
Wong Luhung ingkang utama
Sanget tebih pepantese
Mangkya tan linuput
Sunan sinembah pangabakti
Anyuwun pangampura
Dasare wong luhung
Gamel manungsa utama
Weruhing laku sulsila ingkang kapti
Sederenge katingal

Lakunaneng Sunan Purba Jati
Marang sedaya ingkang ningal
Kersahe ki Ageng Gamel
Rahsa pyambek den gulung
Ndadung kalih kalimah sakdatin
Kigeng Gamel nalika
Ngilang sirnaneng tan krana
Moksa saking paningalan Sunan Jati
Pintene wali liyan

  1. Asyaikh Assyufi Sirnurulloh
Syaikh Zainal Ridahudi memiliki seorang anak bernama Nyimas Jagung (Lahir dari orang suci/besar). Nyimas Jagung menikah dengan Syaikh Assyufi Sirnurulloh yang merupakan masih satu garis keturunan Syaik Sulaiman Bagdadi. Syaikh Assyufi menggantikan mertuanya dengan gelar Syaikh Nurjati 5 atau Syaikh Hindu Haji 4.  Masjid Sirbudhirahsa Gamel pertama kali dipugar dengan tujuan untuk memperluas bangunan masjid karena kian banyaknya santri, diyakini pada tahun 1300an atau abad 14 awal yaitu saat telatah Sarah Bahu (Pesantren) Padukuan Maja, Syekh Asufi Sirulloh atau Generasi ke 5. Ada sebuah catatan dalam aksara Rikasara Murni di sebuah kulit:
Ing Mangsa Tumurun Seh Asupi Sirulloh
Katah Badal Manggoneng Tlatah Sarah Bahu
Ginahu Sarahing Ngurip
Pasujudan Tan Tepung Hing Shope
Sumurup Sengengeng
Ngasup Ngewodho Balepanjang
Mrih Pangriyome Waringin
Giri Panilas
Jembar Kalangane Sirbudhirahsa
"Pada masa padukuan dipimpin Syekh Asufi Sirulloh, Banyak Utusan yang bermukim di Pesantren Duku Maja, Menuntut ilmu kehidupan (Agama Islam), Hingga Masjid Sirbudhirahsa tidak muat menampung jamaah, Saat petang Syekh Asup membawah (dibahu) Balepanjang, ditarau di bawah pohon beringin, Bukit Panilas, Masjid Sirbudhirahsa diperluas hingga kepelatarannya"

  1. Nyimas Jagung
Putri Syaikh Delik Semuningaran yang bernama Nyimas Halif Lambang Siti Nafisah menikah dengan Pangeran Lelana. Dalam catatan seloka Baranti tertulis:
Dedalaning pati hiku kawitan lawan niteni ananeng tilem
 iwal kongsi luput rikala nglakoning kahanan Hanyut 
tumeka salerese tilem, 
saka ayemayeme tumeka lali ing undakundake dadi pratandhane, 
Kaping kalih ngundi tekad uripira pyambek,
 ngombe napas supados dadi Anpas.
 Anpas denpeksa supados manunggal kelawan Tannapas. 
Tannapas nyata manunggal lawan Nupus 
lakune ing manggoneng kahanan iklas teguhing jaya.
Sabda kala
Rikalaheng mangsa tinaritan
Cinaritaneng badal komalan jati
Saba wana anata giri
Pangeran Caruban kang siweg amanuti prentahing ramanda
Lakutama ngelelana
Andadar goneng ngurip nganggu pangaweruh
Ngelampah ngetan paliring sagara
Warsahe lawasing sasi
Ninukul pangbaranti ing manah
Maring ramah biyang
Angmung ngawikani karanane  ananeng titah ramah punika
Mangkya mulih ngambah margi angliring
Cala dal pinuju ngamparan jati
Goneng kinasepahan pyambekira
Tibah telinging wana waptuning dukur
Mimiti wulu asembah bakti mring Hyang
Hangaso sajroning ngimpen
Tur rampung weptuning ngasar
Ngawodho kalangenaningtyas
Amiyarsa kalayung swaraning noja ngawos halus
Iki alas semene awawung rungked
Witwit samya purba
Ana swaraning wonja wos kidung rosul
Lamatlamat swaraning pramananingtyas
Wahila robbika pargob
Jaka Lelana pinados ananeng mami
Telenging wana aningal langgar
Lawang kroya luhunging tlaga
Banyu tirta wening
Nyawange kongsi lalangen
Mring jatmikaning mukti wanoja
Liring luwe swara ngawos
Tan kemutan ngacekat
Lebet dampal toya tlaga dadi
Krungon halus Cung anata
Giri basa lawan gunung 
Ana lakutama dursila
Becik abebecik katitik
Anggugah ngeran lelana
Gancang mudal saka toya
Ayun pangampura ramah
Kirang sono diri kawula
Sabab kalangenan mring swara
Pangawos nyimas ika
Ing luhung tlaga wawudadi
Yenna purun ayun pitakonan sinten puniki
Cah bagus iku apuputraningsun 
Nyimas Halip Lambang Siti Napisah
Iki kula Hindu Haji
Hiku lawang kroya Sirbudhirahsa
Jaka lelana isin sajroning ngati
Duh iki tlataning sarah bahu
Siten kasucen panggonaneng guru rama kawula Hadi Caruban
Lelana halus hamatur sembah bakti ayun pangaksami
Kigeng Hindu halus amatur
Beng, ado pepantes manungsa
Sinujud mring sepepada
Luput lepat nyuwun pura mring Hyang
Titis waris pun serating gusti
Halus himba lelana
Inggih ramah nyuwun pangampura
Kula mung wong sudra
Kang tanuning tata kraman
Hayun denatampih sembah bakti kula
Denidin mulang ngangsuh pangawikan
Hing tlatah sarah bahu puniki
Beng, bapa uning sapa setuhu nira
Cah bagus sabah wana
Manuting prentah ramah lelaku lana
Titising Hyang Silih Wangi
Bismillah tan pungkasan angadeg jumeneng
Sembah lelana katampi
Mring Seh Muja Wati Qudratulloh
Padang genjrang sawangane Ngeran lalana
Wana dadya setuhu padukon
Katah cantrik saka sabah liyan
Hestu setuhune iki panggonan guruning ramah Cakrarat
Seh wong mandaraguna sakti tan mungsu
Malih duku rame katingal wana rungkad
Tibahing mangsa Pangeran Lelana Hanyantrik
Denpupuh mantu Seh Muja
Tepung Jodoh kaliyan Nyilambang
Tamat 
.....
Anata Ran Nawa
Tumurun sada lanang
Kinastryan Panata Gama Turanggana
Memayu Tlatah tur sinawangan kilene
Alungguh Rengas delik
Kang sinahu paran pinaran
Ana ne kang tan nganani
Kusawane tan sinagasani

Sloka Sarosowan
Hijabeng Hasan Mulang Madanurweda
Ramah Sada Tlatah Sucen
Sagotra Mring Pyambeke
Carubane Poro Sasanadrya
Gemaning winangun Sarosowan Jaladri Kilen

Seloka Tabu Renteng
Cumbuhing wiwayahing Tlatah
Giri winungkuk Siten Mataram
Asal tinukul rerembahan kiwas
Rengas Delik denkaturi rika
Hanyawat Haji Pamulang Gamel
Buraksanata malih kaga
Sadasya Madanur darmayuda
Syekh wang darmabakti
Sadu Juhuding saka ratna
Suci hing karep kuwasan
Amung mulih tlatah pal sagotra
Renteng denawodho merang



(Disadur dari Serat Ageng Hong Dji Mamayu Ayuhing Siti Gamel).

(Babad Yang dibacakan saat Acara Nilas Bedaya Masjid Sirbudhirahsa Tanggal 07 April 2016)

Bismillahi amimit ingsun kelawan isime Gusti Kang Amurbeng Jagat. Rupa papat lebur manunggal ing Wujud. Sagunge pangksami kakatur mring Hyang Widi Kang Rohman lan Rohim, sebab wani wani ababar Witaji kang pun kayoman Waringin rungkad. Waringin dadya pratandaning laku tama, aris budhi tan budigal. Mugi wiwal saka kalepatane pepeleng panggrahita lan Manah. Anyaksenan ingsun: Ya Ingsun dat Tunggal, Pangrindoning Dat, Dat Suci, Sucining Dat.


Rikala zaman kang kapungkur, Ana satunggaling manusa saka tlatah poro ambiya kang jejuluk Syekh Semuningaran saking Bagdad Nagari kang mangrupi Panditaning Negeri Rum. Syekh semuningaran utawi Syeh Samar utawi Sanghyang Semar, manut nuruti pestene Hyang Ilahi, golek panggonan anyar kangge nyebaraken Syarengate Jeng Nabi Pungkasan agami kang Utami.
Sang Syekh Semar ngamba segara nenumpakan "Pangurip", dugi ning tanah alas Awang Uwung, sedawane sawangan anane mung wit wit kang masih rungked. Kedugiane Syeh gawe ibur poro sato kewan lan Danyang merkayangan, pating kreyak pating jejerit..jejemplingan. Ana kang bunga ana kang sangar ngrasa panas kaya ning duwure parapara kang memarong. Sang Batara kanguasai alas awang uwung deleng poro kawula rakyate ibur tetawuran, melu greges kepanasan lan ngujar: Eh ana sasmita apa jagat peteng dadi pepadang, kembang mekar lan uwo uwohan pada atub, sato kewan pada rerasan bunga, jin merkayangan pating blingsatan ngrasa sumub. Hmmm... ana manusa Pinilih saka Dewa Jagatnata.
Seh Semar kepanggih kaliyan Sangyang Batara, aris sebahane ayun mangremaning Hyang Widi. Manuti pestene lan kuduhe. Sang Batara tibah welas asihe, nyukani idin Seh Semuningaran manggon ning tanah kuasane. Seh Semuningaran damel panggonan ning tengahe alas awang uwung sajrone alas punika Syeh Semuningaran winangun uamah lan damel Langgar Lawang kroya ning duwure balong wahu dadi rikala wulan pepadang jumenengeng Sirr Budhi Rahsa (Kala Chandra: Sir Budhi Rahsa atau diartikan Tahun 510 Hijriyah). Lan disebut Duku Sarabau kang gadahi makna Sarah iku Sarengat iku Hukum iku ajararan/tuntunan, lan Bahu iku lengan iku banyak; Duku Sarabahu iku Padukuan yang mengajarkan syarengat/tuntunan hidup kang akeh/luas.

Ikulah wedaran saking Wit Waringin Rungkad kawitane asal mula Desa Gamel. Ing Chandrakalane Sirbudhirahsa utawi Tahun 510 hijriyah utawi 1132/1112 Masehi, dadi Umure Mesjid Sirbudhirahsa iki 904 Tahun.
Semonten mawon sejarah kang saged kula wedar kala niki, yen katah kesawonan ayun agunge pangaksami mring poro sepuh lan poro aji kang enten ing tataran siti kasucen Gamel lan tanah jawi. Sebab kula mung manungsa biasa, anak putuh kang pengen uning ing Wite Waringin Rungked kang dadi tetengere silsilahe kawula kabeh anak putuh Gamel.


Filosofi Balepanjang:
Berasal dari bahasa Jawa Kawi/Senkrit terdari dari 2 kata Bale + Panjang. 
Bale = Tempat Tidur atau Simbol luwat/Liang lahat atau Kematian
Panjang = Piring atau simbol hidup
Bale Panjang merupakan simbol agemaning manusia hidup sampai meninggal.  Berasal dari Bale yang berarti tempat tidur yang mengartikan kematian, sedang Panjang berarti piring tempat makan yang mengartikan hidup. Bagian-bagian serta Simbolis Bale Panjang:
  1. Kaki Bale Panjang berjumlah 6 yang mengartikan Rukun Iman. Hidup itu harus berlandaskan keimanan.
  2. Saka berjumlah 5 (1 sepasang disatukan dan diselimuti kain) mengartikan Rukun Islam. Hidup itu bertopang kepada rukun Islam.
  3. Saka Gantet diikat/diselimutin kain mengartikan Syahadatain yang diikat kuat dalam hati dan laku lampah diri manusia.
  4. Papan berjumlah 17 batang yang menyimbolkan 17 rokaat atau sholat 5 waktu sehari semalam.
  5. Saka Asta/Blandar berjumlah 4 yang merupakan simbol dari 4 Mazhab yang dipegang masyarakat Gamel Sarabau tidak fanatik salah satu mazhab (Ningal ing kabehe lan angguguh manut ukum mring Quran)
  6. Kayu Anggar berjumlah 9 yaitu simbol 9 wali

Bale Panjang setiap tahun diganti atap yang dari "Welit"  yang disebut Memayu Bale Panjang yang mememiliki pituah jika Anak Putu Esun sira samiya pada guyub mring tumindak eling/Muhasabah kangge sesae urip tur sumerehe. 

Masjid Sirbudhirahsa Gamel pertama kali dipugar dengan tujuan untuk memperluas bangunan masjid karena kian banyaknya santri, diyakini pada tahun 1300an atau abad 14 awal yaitu saat telatah Sarah Bahu (Pesantren) Padukuan Maja, Syekh Asufi Sirulloh atau Generasi ke 5. Ada sebuah catatan dalam aksara Rikasara Murni di sebuah kulit:

Ing Mangsa Tumurun Seh Asupi Sirulloh
Katah Badal Manggoneng Tlatah Sarah Bahu
Ginahu Sarahing Ngurip
Pasujudan Tan Tepung Hing Shope
Sumurup Sengengeng
Ngasup Ngewodho Balepanjang
Mrih Pangriyome Waringin
Giri Panilas
Jembar Kalangane Sirbudhirahsa
"Pada masa padukuan dipimpin Syekh Asufi Sirulloh, Banyak Utusan yang bermukim di Pesantren Duku Maja, Menuntut ilmu kehidupan (Agama Islam), Hingga Masjid Sirbudhirahsa tidak muat menampung jamaah, Saat petang Syekh Asup membawah (dibahu) Balepanjang, ditarau di bawah pohon beringin, Bukit Panilas, Masjid Sirbudhirahsa diperluas hingga kepelatarannya"

Selama beberapa generasi masjid Sirbudirahsa hanya dilakukan penggantian "Welit" setiap tahun sekali, hingga pada tahun 1625 Masjid Sirbudirahsa dibuatkan atap oleh sulthan Keraton Kanoman karena atas jasa Syekh Rengas Delik Sada Lanang atau Pangeran Nawa Diningrat. Sembari memberikan atap juga membangunkan Sitinggil (Balai Desa) dan menobatkan Putra Syekh Rengas Delik yang bernama Raden Anom Talibrata menjadi kuwu dengan Gelar Pangeran Sura Dinato. Masyarakat sering menyebut dengan Mbah Kuwu Sangkan Suro Dinato. Adapun bukti bantuan atap itu tertulid di Saka Asta Masjid Sirbudhirahsa:

Mar Adhi Ngawas
(Turun Langsung Raja Untuk Mengawasi)
Angmung Ngewalen
(Hanya Mengawasi)
5261
(1625 Caka)



Dina Ahad Jemadilakir
(Hari Minggu Bulan Jumadil Akhir)
Tahud Jam Akir
(Tahun Jim Akhir)
82
(Tanggal 28)

Dalam Saka Astha Masjid sebelahnya ( Utara ) juga tertulis catatan (3 Baris) yang berbunyi: 
Bengiye Hadhi Manepis Nata Walan (Pada malam harinya Sulthan Memberikan penjelasan detail cara membuat Atap Masjid). 
Rugaba Bahana Sinagasa Kuwasan Hulihi (Sebagai Ucapan Terima Kasih akan rasa Syukur atas dikembalikannya Singgasana dan Kekuasaan)

Catatan
Pemberian atap ini adalah sebagai ucapan terima kasih sulthan kanoman karena bantuan Kigede Gamel (Ada dalam Babad Waringin Rungked)
Huruf Rikasara sebelum tahun 1650 Masehi masih murni. Dan mulai tercampur/ dicampur Carakan saat hubungan dengan Kerajaan Mataram sangat dekat. Huruf Rikasara merupakan Sasandhisara (Tulisan untuk lingkungan sendiri yaitu Padukuan Maja yang pengaruhnya hingga daerah Kadipaten sebagai tulisan kedua selain Aksara Pagon)



Pada masa setelah kemerdekaan Masjid Sirbudhirahsa pun mengalami beberapa kali pemugaran, baik dari bantuan pemerintah maupun swadaya:
  1. Tahun 1973 Rehab Serambi depan pada masa Kuwu Supandi.
  2. Tahun 1982 waktu DKM dipegang Ustadz Karim (Ustadz Pendatang) dibuatkan Serambi Kanan dan Kiri Masjid serta menurunkan tinggi lantai Masjid 70 Cm sekaligus penggantian Ampar yang di dalam masjid dengan Tekel serta diganti Nama menjadi Nuurul Karomah
  3. Tahun 1996 & 1998 penggantian dari beberapa Saka Guru, Blandar (Saka Asta) dan Serambi Masjid oleh swadaya masyarakat pada waktu Desa Gamel dipegang Kuwu Gunawan dan Bantuan dari Kantor Suaka Burbakala Serang yang sekarang bernama Kantor Pelestarian Cagar Budaya Banten. Namun disayangkan pembangunan teras depan tidak mempertimbangkan pakem dan nilai sejarah Masjid kuno karena saat itu masyarakat sangat awam terhadap benda cagar budaya.
  4. Tahun 2013 dibangun Teras depan sebagai tempat parkir dan bangunan pusat informasi serta museum Masjid pada masa DKM H. Yoyon Supriyono dan Kuwu H. Abdul Gani.   



Untuk Video Kilasara Laras Tahun2017 bisa dilihat di:
https://www.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=oKCxYXd7-wM&app=desktop